Etimologi dan Sejarah Kota Medan

Etimologi

BACA JUGA : Situs Cek Resi

Menurut buku harian seorang pedagang Portugis pada awal abad ke-16, nama Medan sebenarnya berasal dari kata Tamil Maidhan, yang juga dikenal sebagai Maidha?am (Tamil: ???????), yang berarti Tanah, yang diadopsi dari bahasa Melayu. Salah satu kamus Karo-Indonesia yang ditulis oleh Darwin Prinst SH yang terbit pada tahun 2002 menyatakan bahwa Medan juga dapat didefinisikan sebagai “pulih” atau “menjadi lebih baik”.

Sejarah
Di zaman purba, kota Medan dikenal sebagai Kampung Medan (Desa Medan). Itu adalah sebidang tanah rawa dengan luas sekitar 4000 ha. Beberapa sungai yang melintasi kota Medan mengalir ke Selat Malaka. Sungai-sungai ini adalah Sei Deli, Sei Babura, Sei Sikambing, Sei Denai, Sei Putih, Sei Percut dan Muara Belawan.

Kerajaan Aru
Artikel utama: Kerajaan Aru
Daerah di dalam dan sekitar kota Medan, Kabupaten Deli dan Langkat merupakan lokasi Kerajaan Aru kuno (Haru). Kerajaan ini didirikan oleh orang-orang Karo dan berkembang antara abad ke-13 sampai abad 16. [6] Beberapa situs arkeologi di sekitar Medan terhubung dengan Kerajaan Aru, termasuk Kota Rentang di daerah Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, [7] situs arkeologi Kota Cina di Medan Marelan, [8] dan Benteng Putri Hijau, sebuah benteng di Deli Tua, Namorambe, Kabupaten Deli Serdang.

Pendiri Medan
Medan dimulai sebagai desa bernama Kampung Medan (Desa Medan). Kampung Medan didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi, seorang pria Karon yang berasal dari Tanah Karo. Sebelum menjadi seorang Muslim, dia adalah seorang pengikut Pemena. Menyusul sejarah “trombo” dan Hamparan Perak (XII Kuta), Guru Patimpus belajar Islam dari Datuk Kota Bangun. Pada saat itu, Guru Patimpus dan bangsanya ingin bertemu Datuk Kota Bangun. Mereka tidak hanya ingin bertemu dengan Datuk Kota Bangun, mereka juga ingin bersaing dengan dia untuk mendapatkan kekuasaan. Kapanpun Guru Patimpus pergi ke Kota Bangun, dia selalu melewati Pulo Brayan. Di Pulo Brayan, Guru Patimpus jatuh cinta dengan Putri Pulo Brayan King. Akhirnya, dia menikahi sang putri dan memiliki dua putra, Kolok dan Kecik. Setelah dia menikah, Guru Patimpus dan istrinya membalik kawasan hutan di antara Sungai Deli dan Sungai Babura ke sebuah desa kecil dan disebut Kampung Medan. Tanggal saat itu terjadi telah ditandai sebagai tanggal ulang tahun Medan. Itu terjadi pada bulan Juli, 1 1590. [10]

Di zamannya, Guru Patimpus tergolong orang yang berpikir ke depan. Hal ini dibuktikan dengan mengirimkan anak-anak mereka belajar (baca) membaca Alquran ke Datuk Kota Bangun dan kemudian mengirim mereka untuk memperdalam tentang Islam ke Aceh.

Pada masa awal, penduduk asli menyebut daerah tersebut sebagai Tanah Deli (Indonesia: Tanah Deli), dimulai dari Sungai Ular sampai Sungai Wampu di Langkat sedangkan Kesultanan Deli yang berkuasa pada saat wilayahnya tidak meliputi daerah antara dua sungai.

BACA JUGA : situscekresi.com

Pernyataan yang mengkonfirmasikan bahwa Kampung Medan adalah deskripsi H. Muhammad Said yang mengutip melalui buku Deli: In Woord en Beeld yang ditulis oleh N. sepuluh Cate. Pernyataan tersebut mengatakan bahwa awal Kampung Medan adalah sebuah benteng yang terdiri dari dua lapisan dinding bundar berbentuk bundar di sebuah pertemuan antara dua sungai yaitu sungai Deli dan Babura. Rumah Administrateur terletak di seberang sungai dari Kampung Medan. Lokasi Kampung Medan berada di lokasi bangunan Wisma Benteng modern sekarang dan rumah Administrateur ada di gedung PTP IX Deli Tobacco saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *