Review film drama romance “The Fault in Our Stars”

Genre : Romance, Drama
Tahun rilis : 2014
Director : Josh Boone
Produser : Wyck Godfrey
Pemain : Shailane woodley, Ansel egort, nat wollf, dkk

Sudah denger film ini kan? Sudah nonton? Atau mungkin kalian belum nonton? Ya, film ini populer sejak hari pertama dirilisnya. Film bergenre romance ini diangkat dari sebuah novel karya John Green yang jadi best seller di New York. Film ini adalah film tentang sad love story yang bisa kalian tonton. Dan tentunya kalian harus siap-siap tissue ya kawan-kawan kalau mau nonton film ini.

Di awal film diceritakan seorang gadis bernama Hazel yang terkena penyakit kanker paru-paru, si Hazel bisa bernapas dengan baik menggunakan tabung oksigen. Jadi ya kemana-mana dia membawa tabung oksigen itu selalu bersamanya. Sampai akhirnya ia disuruh ibunya pergi ke sebuah perkumpulan sel kecil di sebuah gereja, nah disana ia berkumpul dan berdoa sama orang-orang yang juga menderita penyakit sama sepertinya. Awalnya Hazel ga begitu minat sama kegiatan ini karena menurutnya membosankan.

Nah sampai akhirnya dia bertemu sama seorang cowok di perkumpulan itu, ya cara ketemunya gak jauh-jauh amat dari film romance biasanya. Mereka ga sengaja bertabrakan, dan semenjak saat itu si Augustus jadi curi-curi pandang gitu. Pas di dalem gereja si Augustus curi-curi pandang sambil senyum-senyum sendiri ke Hazel. Hazel ngerasa orang itu aneh karena ngeliatinnya kaya gitu, sampai akhirnya giliran Augustus cerita dan saat itu si Hazel mulai tertarik sama Augustus. Setelah itu mereka ngobrol dan ngerasa nyaman satu sama lain.

Mereka jadi tambah deket nih, chattingan, terus telepon2an, main bareng pokoknya udah kaya orang lagi pdkt gitulah. Bagian ini pasti bikin kalian senyum-senyum sendiri karena mereka itu sweet banget deh. Sampai akhirnya mereka dapet undangan untuk pergi ke Amsterdam ke rumah si penulis buku favoritnya Hazel. Pertamanya mustahil melihat penyakit Hazel yang kambuh, namun akhirnya ayah dan ibu Hazel menyetujui tapi dengan persayaratan ibunya Hazel ikut.

Mereka sampai di Amsterdam dan ternyata si penulis yang bernama Pieter Van Houten itu gak sesuai ekspetasi mereka. Orangnya menyebalkan dan nyeremin, akhirnya Augustus jalan-jalan sama si Hazel dan waktu mereka ingin kembali si Augustus jujur kalau dia sedang kena kanker. Adegan ini bikin aku nangis, si penulis hebat karena bisa membuat perasaan penonton merasakan bagaimana hancurnya hati Hazel ketika mendengar jika Augustus tiba-tiba sakit.

Mereka menjalani hari-hari mereka lagi dan ternyata Tuhan berkehendak lain. Si Augustus pergi mendahului Hazel, rasanya ikut nangis kejer ngelihat Hazel sebegitu menderitanya ditinggal Augustus, apalagi pas di pemakaman si Augustus. It’s the sad story ever!

Nah setelah itu Hazel menerima email yang pernah ditulis Augustus untuknya dan malemnya ia tiduran di tanah sambil mengahadap bintang dan mengingat Augustus, kekasihnya yang sudah pergi. Ia berjanji akan selalu mengingat Augustus sepanjang hidupnya.

Overall film ini berhasil membuat kamar saya menjadi lautan tissue bekas air mata, dari segi cerita film ini berhasil membuat penonton juga ikut merasakan bagaimana sedihnya jadi Hazel. Dan klimaks yang ada di film ini juga dirancang dengan sangat apik hingga membuat penonton semakin jatuh rasanya ketika mengetahui si Augustus sakit. Tapi film ini mungkin untuk konsumsi usia 17 tahun keatas karena ada adegan yang tidak layak untuk ditonton anak usia dibawah umur. Tapi puas sih nonton ini karena cerita yang disuguhkan itu begitu menyayat hati.

Temukan film terbaru kesayangan anda secara mudah di menu pencarian film di situs https://nontonxxi.online/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *