Contoh Klausa Dalam Proposal Peternakan

Contoh Klausa Dalam Proposal Peternakan – Kali ini saya akan membagikan contoh klausa dalam proposal peternakan. Efisiensi reproduksi, hanya bisa diperoleh melalui suatu manajemen yang baik dan pengambilan kebijakan yang tepat dan dalam tata laksana kegiatan sehari-harinya. Sistem tatalaksana reproduksi yang tepat harus dapat memegang peranan penting dalam menentukan tingkat keberhasilan produksi dari suatu usaha peternakan sapi perah (Rasad, 2009). Untuk mencapai target reproduksi, program manajemen reproduksi harus memperhatikan beberapa aspek diantaranya pertumbuhan, kesehatan dan reproduksi itu sendiri. Induk sapi perah harus dimonitor untuk pertumbuhan dan perkawinan pada usia yang sesuai serta kemungkinan timbulnya penyakit setelah beranak harus diminimalisasi (APHIS, 2009).

Contoh Klausa Dalam Proposal Peternakan

Dalam proposal ini mengandung klausa yang telah disusun dengan baik dan urut. Untuk meningkatkan efisiensi produksi dalam usaha peternakan, perlu diketahui prinsip-prinsip reproduksi, penyebab menurunnya efisiensi reproduksi, serta cara-cara untuk meningkatkannya. Beberapa sifat reproduksi yang dapat mencerminkan performa reproduksi ternak sapi meliputi kawin pertama setelah beranak, siklus estrus, service per conception (S/C), lama kosong (days open) dan selang beranak (calving interval) (Triwulanningsih, dkk., 2009). Kawin pertama setelah beranak (first mating post partus) adalah interval waktu sejak sapi beranak hingga dikawinkan kembali untuk pertama kalinya setelah beranak (Poock, dkk., 2009).

Waktu kawin pertama setelah beranak dilaksanakan dipengaruhi oleh kembali normalnya siklus ovarium setelah beranak, timbulnya berahi dan deteksi berahi serta kebijakan manajemen yang menentukan waktu mulai dapat dikawinkan kembali setelah beranak (Ball dan Peters, 2004). Panjang pendeknya kawin pertama setelah beranak juga dipengaruhi oleh berahi pertama kali seekor ternak setelah beranak yang penting untuk segera diketahui sebagai salah satu faktor penentu mulai dilaksanakannya kawin pertama setelah beranak (Ya’niz, dkk., 2006 dalam Triwulaningsih, dkk., 2009). Kesehatan organ reproduksi seekor induk ditentukan oleh kecepatan pemulihan kembali kondisi uterus setelah melahirkan ke keadaan normal. Kandungan klausa tersebut sesuai dengan struktur yang ada.

Kondisi uterus yang telah siap untuk bunting kembali ditandai dengan berjalannya lagi siklus berahi dari induk tersebut. Involusi uterus dan siklus ovari yang kembali berjalan merupakan proses penting selama periode setelah beranak (Morton, 2004). Pada sapi proses involusi uterus berkisar antara 20-42 hari setelah beranak. Prosesnya meliputi pembersihan material dan bakteri yang berhubungan dengan kebuntingan dan kelahiran serta proses kembalinya uterus ke ukuran dan posisi semula untuk kebuntingan selanjutnya (Hafez, 2000; APHIS, 2009). Demikianlah contoh klausa dalam proposal yang dapat saya bagikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *